Jangan Jadi Pebisnis Sekarang

The businessman isn’t just profession

Halo rekan-rekan pengunjung setia! Mungkin Anda heran kenapa artikel ini saya beri judul, “Jangan Jadi Pebisnis Sekarang”. Tanda tanya tentu muncul di benak Anda, tapi justru itu… makin penasaran Anda, makin serius pula Anda akan berusaha memahami apa yang saya maksudkan.

Jujur saja tulisan ini saya buat untuk men-downkan Anda para newbie. Anda yang akan terjun ke dunia bisnis, entah itu bisnis online ataupun bisnis konvensional. Namun hal ini terpaksa saya lakukan demi kebaikan Anda semua.

Banyak orang mengira menjadi pebisnis hanyalah sekedar berpindah kerjaan. Yang tadinya menyandang status karyawan, sekarang statusnya pebisnis. Keren. Yang tadinya dapet gaji tetap tiap bulan, sekarang gajinya malah ngga jelas (ngga pasti). Dan inilah kesalahan terbesar para newbie yang akan terjun ke dunia bisnis. Ujung-ujungnya… GAGAL TOTAL. Cuma buang-buang waktu, buang-buang uang, buang-buang tenaga, dll. Makin down…? Baca terus, Mang!

Rekan-rekan, berubah menjadi pebisnis bukan sekedar berpindah profesi. Anda harus siap untuk berubah total. Tidak hanya pola kerja, tapi juga mental, pola pikir, paradigma, punya visi, jeli membaca peluang, dll. Yang paling penting dari semua itu adalah merubah nilai inti dari dalam diri Anda sendiri.

Silahkan Anda buka kembali buku The Cashflow Quadrant, karangan om saya Robert. T. Kiyosaki (bagi yang belum punya silahkan pinjam di perpustakaan, atau beli di Gramedia terdekat). Disana Kiyosaki menjelaskan dengan amat sangat jelas dan baik, tentang 4 kuadran yang mewakili bagaimana cara orang mendapatkan uang.

Selain cara mendapatkan uang, masing-masing kuadran tersebut ternyata memiliki satu nilai inti yang sangat mendalam dan sangat mempengaruhi kita. Jika kita tidak paham akan nilai inti ini, akan sulit dan mustahil sekali untuk sukses dalam menyeberang ke lain kuadran.

Sebagai contoh, E (employee / karyawan). Nilai intinya adalah rasa aman. Tidak mau rugi, dan senang akan hal yang pasti-pasti saja (gaji tetap, honor tetap, uang pensiunan, dll). Kata yang sering didengar dari kuadran E adalah “Saya mencari pekerjaan yang aman dan menjamin, dengan bayaran tinggi dan tunjangan bagus.”

Ketika seorang karyawan hendak berubah menjadi seorang pebisnis (pindah dari kuadran E ke kuadran B – Business), maka akan ada pertentangan dalam nilai inti orang tersebut. Apalagi E dan B saling bertolak belakang.

Bila E senang yang pasti-pasti, maka pekerjaan seorang B adalah pekerjaan yang hasilnya tidak pasti, bahkan cenderung merugi di awal sebelum sukses. Kuadran B juga menuntut sikap leadership yang tinggi dan mampu mengelola manusia, padahal si-E justru selama ini menjadi orang yang dikelola si-B.

Lantas apa yang terjadi bila si-E memaksakan diri terjun ke kuadran B sebelum benar-benar siap? Sudah bisa dipastikan akan gagal. Biasanya gejalanya seperti ini :

Awal mula melihat sebuah peluang, serasa ada semangat untuk mencoba dan yakin sukses. Dana pun diinvestasikan sebagai modal awal untuk berbisnis (beli perlengkapan, entah itu panduan bisnis, bahan baku, tool, dll). Setelah berjalan agak lama, jangankan mendapatkan tambahan keuntungan, yang ada justru malah rugi dan tidak mendapatkan apa-apa.

Karyawan ini pun kemudian gelisah dan mulai ragu, apa benar saya bisa menjalankan bisnis ini? Katanya bisa sukses, kok malah rugi seperti ini. Dalam hal ini nilai inti si karyawan mulai terusik. Ia tidak lagi merasa aman dan nyaman dalam dunia bisnis tersebut. Mentalnya tidak siap dan ia lupa bahwasanya bekerja sebagai pebisnis tidak sama halnya dengan bekerja sebagai karyawan. Lebih enak karyawan. Kerjaan pasti, gaji sudah pasti terima awal bulan. Yang PNS udah pasti terima pensiun, dll. Ujung-ujungnya… karyawan ini pun gagal.

Ternyata tidak berhenti sampai disitu saja. Karena kegagalannya, si karyawan ini pun merasa bahwa bisnis yang diikuti hanya penipuan belaka. Akhirnya mulai menjelek-jelekkan hal-hal yang berkaitan dengan bisnis yang diikutinya. Dan berkata ke semua orang bahwa bisnis itu jelek dan kejam. Padahal mungkin boleh jadi kegagalannya adalah murni karena kesalahannya sendiri, bukan karena bisnisnya.

Hal ini berlaku juga dengan kuadran-kuadran yang lain. Ingat nilai inti masing-masing kuadran itu berbeda. Tidak saya jelaskan disini, cukup Anda baca langsung di buku aslinya.

Saya disini kembali mengingatkan Anda! Sebelum Anda benar-benar terjun di dunia bisnis, coba yakinkan diri Anda, apakah sudah benar-benar siap atau belum. Jangan berspekulasi karena hanya akan membuat Anda lebih kecewa ketika gagal nanti.

Anda bisa menguji dengan beberapa pertanyaan berikut :

  • Siapkah Anda untuk mengalami kerugian di awal dan tidak mendapatkan apa-apa selama beberapa waktu ke depan?
  • Bagaimana perasaan Anda bila hasil yang didapatkan dari bisnis ngga jelas? Kadang bagus, kadang turun, kadang ngga dapet apa-apa?
  • Sudah siapkah Anda untuk bersaing dengan kompetitor yang mungkin bermain kasar dan licik?
  • Apakah Anda siap berada dalam kondisi penuh tekanan saat bisnis Anda terancam bubar?
  • Seberapa jeli Anda melihat sebuah peluang?
  • Seberapa berani Anda mengambil peluang yang penuh resiko dan mengubahnya menjadi hal yang memberikan penghasilan tanpa batas?
  • Sudah siapkah Anda untuk mengubah kebiasaan, sikap, pola pikir, dan mau untuk terus belajar dan berkembang?

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bisa Anda tanyakan pada diri sendiri. Jika jawabannya kebanyakan tidak. Maka sebaiknya tidak perlu memaksakan diri menjadi pebisnis (kuadran B) ataupun investor (kuadran I). Toh dari masing-masing kuadran pun Anda masih bisa sukses.

Kuadran E, Anda bisa sukses dengan menjadi pejabat di perusahaan Anda. Kerja yang giat dan tunjukkan profesionalitas Anda. Kuadran S, Anda pun bisa sukses dan bahkan meraih penghasilan besar milik Anda sendiri. Kuadran B, sukses dengan sistem bisnisnya yang berjalan otomatis. Kuadran I, sukses dengan mempekerjakan uangnya (investasi).

Jadi kalau belum siap, jangan jadi pebisnis sekarang. Bekali diri Anda selengkap mungkin. Jika benar-benar sudah mantap… baru ambil keputusan terbaik untuk diri Anda.

Artikel Yang di Rekomendasikan untuk Kamu:
Upah Minimum Provinsi (UMP) Kalimantan Utara : Tanjung Selor 2021
Upah Minimum Provinsi (UMP) Kalimantan Utara : Tanjung Selor 2021

Kalimantan Utara : Tanjung Selor - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) merilis tabel Upah Mininum Provinsi (UMP) di 34 provinsi Indonesia pada Read more

Upah Minimum Provinsi (UMP) Sulawesi Utara : Manado 2021
Upah Minimum Provinsi (UMP) Sulawesi Utara : Manado 2021

Sulawesi Utara : Manado - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menerbitkan susunan Upah Mininum Provinsi (UMP) di 34 provinsi Indonesia pada hari Read more

Upah Minimum Provinsi (UMP) Bali : Denpasar 2021
Upah Minimum Provinsi (UMP) Bali : Denpasar 2021

Bali : Denpasar - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) merilis uraian Upah Mininum Provinsi (UMP) di 34 provinsi Indonesia pada hari Kamis Read more

Cara Membuat Tanda Tangan di Word, Ada Kiatnya!

Ikuti kiat cara membuat tanda tangan di word yang dapat kamu kerjakan secara ringkas dengan benar-benar simpel cuman perlu beberapa Read more

Leave a Comment