Kisah

Antara Sahabat dan Keyakinan

Antara Sahabat dan Keyakinan 1

Kisah Abu Nawas kali ini dengan judul “Antara Sahabat dan Keyakinan

Berikut Kisahnya:

“Abu Nawas….” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid.
“Daulat Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas.
“saya akan beterus terang kepadamu bahwa kali ini engkau saya panggil bukan untuk kupermainkan atau saya perangkap.
namun saya benar-benar memerlukan bantuanmu.” kata Baginda.

“Apakah gerangan yang bisa hamba lakukan untuk paduka?” tanya Abu Nawas.

Pertanyaan Baginda:
“Ketahuilah bahwa beberapa hari yang lalu saya mendapat kunjungan dari negeri sahabat, kebetulan rajanya beragama Yahudi.
Raja itu adalah sahabat karibku hingga begitu berjumpa denganku, dia langsung mengucapkan salam secara Islam.
saya tidak menduga sama sekali.

Tanpa pikir panjang saya membalas salamnya sesuai dengan ajaran agama kita yaitu kalau mendapat salam dari orang yang tidak beragama Islam hendaklah engkau jawab dengan Wassamualaikum (kecelakaan bagi kamu).
Tentu saja dia merasa tersinggung.
Dia menaynyakan mengapa saya tega membalas salamnya yang penuh doa keselamatan dengan jwaban yang mengandung kecelakaan.

ketika itu sungguh saya tak bisa berkata apa-apa selain diam.
Pertemuanku dengan dia selanjutnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
saya berusaha menjelaskan bahwa saya hanya melaksanakan apa yang dianjurkan oleh ajaran Islam, akan namun dia tidak bisa menerima penjelasanku.

saya merasakan bahwa pandangannya terhadap Islam tidak semakin baik, namun sebaliknya.
Namun bila engkau mempunyai alasan lain yang bisa saya terima, kita akan tetap bersahabat, begitu kata sahabat karibku itu.”

“Kalau hanya itu persoalannya, mungkin hamba bisa memberikan alasan yang dikehendaki Raja sahabat paduka itu yang mulia.” kata Abu Nawas meyakinkan Baginda.

Mendengar kesanggupan Abu Nawas, Baginda amat riang dan Raja pun berulang-ulang menepuk pundak Baginda.
Wajah Baginda yang semula gundah gulana seketika itu berubah cerah.

“Cepat katakan wahai Abu Nawas, jangan biarakan saya menunggu.” kata Baginda tak sabar.

Jawaban Abu Nawas:
“Baginda yang mulia…memang sepantasnyalah kalau Raja Yahudi itu menghaturkan ucapan salam keselamatan dan kesejahteraan kepada Baginda.
Karena ajaran Islam memang menuju keselamatan dari siksa api nerakan dan kesejahteraan menuju surga.

Bukankah Islam mengajarkan tauhid yang berarti tidak menyekutukan Allah SWT, juga termasuk tidak menganggap Allah mempunyai anak.
Nah ajaran tauhid ini tidak dimiliki oleh agama-agama lain termasuk agama yang dianut Raja Yahudi sahabat paduka itu.

Ajaran agama Yahudi menganggap Uzair adalah anak Allah.
Maha Suci Allah dengan anggapan itu dan tidak pantas Allah mempunyai anak.
Sedangkan orang Islam membalas salam dengan ucapak Wassamualaikum (kecelakaan bagi kamu) bukan berarti mendoakan supaya kamu celaka.
Akan namun semata-mata karena ketulusan dan kejujuran Islam yang masih bersedia memperingatkan orang lain atas kecelakaan yang akan menimpa bila mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan yang keliru.”

Seketika itu juga kegundahan Baginda Raja Harun Al-Rasyid sirna.
Kali ini saking gembiranya, Baginda menawarkan supaya Abu Nawas memilih sendiri hadiah apa yang disukai.
Namun Abu Nawas tidak memilih apa-apa karena ia berkeyakinan bahwa tak selayaknya ia menerima upah dari ilmu agama yang ia sampaikan,

Mohon maaf untuk yang beragama lain selain Islam.
Semata hanya kisah saja yang dicuplik dari lembaran hadits Rasulullah SAW yang diulas melalui cerita supaya lebih mudah dipahami.