Kisah

Kisah Ahli Kubur Dipukul Palu

Kisah Ahli Kubur Dipukul Palu 1

Karena tidak mampu mencatat amal buruknya di hadapan malaikat kubur, seorang ahli kubur dipukul palu besar oleh malaikat.
Orang tersebut menyesal karena di dunia dihabiskan untuk bermaksiat.


Diriwayatkan dari Abdillah bin Salam bahwa sebelum malaikat Munkar dan Nakir masuk ke dalam kubur dan menemui ahli kubur, ada malaikat yang mendatanginya dengan wajah yang bercahaya bagaikan matahari, malaikat tersebut bernama Ruman.
Dia masuk dan menemui jenazah dan mendudukkannya.

“Tulislah amalmu dari yang terbaik sampai yang terjelek,” kata malaikat RUman.
“Wahai malaikat, dengan apa saya menulis, mana pena, tinta dan tempatnya?” tanya si mayit.
“Tintanya adalah lidahmu dan penanya adalah jarimu,” jawab malaikat.
“Lalu dimana saya harus menulis sedangkan saya tidak mempunyai selembar kertas pun,” tanya si mayit itu lagi.

Pencatatan Amal
Lalu malaikat Ruman itu memotong kain kafan si mayit itu dan memberikannya kepada si mayit.
“Inilah lembarannya, dan tulislah sekarang,” jawab Malaikat Ruman.

Maka si mayit pun menulis apa yang pernah diperbuatnya ketika hidup di dunia.
Berbagai ibadah yang baik-baik ditulis dengan detail oleh si mayit itu.
Namun ketika giliran mencatat perbuatan yang jelek, si mayit itu berhenti.

“Hai mayit, mengapa engkau berhenti menulis kelakuan jelekmu,” kata malaikat Ruman.
“saya malu terhadap sifat jelekku,” jawab si mayit.
“Hai orang yang lalai (durhaka), kenapa engkau tidak malu pada penciptamu ketika engkau melakukannya di dunia dan sekarang engkau merasa malu kepadaku?” bentak Malaikat Ruman.

Si mayit tak mampu menjawab pertanyaan itu sehingga malaikat Ruman memukul tubuhnya dengan Gada (sejenis palu besar).
Si mayit pun mengerang kesakitan di dalam kubur.
Berulang kali gada itu mendarat di tubuh si mayit, namun si mayit masih tak sanggup menulis perbuatan jeleknya di dunia.

“Angkatlah gada itu dariku wahai malaikat, sehingga saya bisa menulisnya,” kata si mayit meringis kesakitan.
Lalu dengan sambil menahan sakit, si mayit menulis perbuatan maksiatnya selama di dunia.
Ketika laporannya itu selesai, Malaikat Ruman menyuruhnya duduk untuk melipat kafan itu dan membubuhkan cap.

“Wahai malaikat, dengan apa saya memberi cap, sedangkan saya tidak mempunyai cap,” kata si mayit kian menderita.
“Berilah cap dengan kukumu,” jawab Malaikat Ruman.

Malu Kepada Allah SWT
Maka si mayit pun memberi cap dengan kukunya.
Malaikat Ruman menerima laporan itu lalu mengalungkannya ke leher si mayit sampai hari kiamat tiba.

Sebagaimana firman ALLAH SWT,
“Dan pada setiap manusia telah Kami tetapkan anak perbuatannya (sebagaiman tetapnya kalung) pada lehernya.Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang akan dijumpainya dalam keadaan terbuka.”
(QS.Al-Israa:13).

Setelah itu masuklah malaikat Munkar dan Nakir.
Apabila si mayit tersebut ahli maksiat, dia akan melihat bukunya pada hari kiamat dan diperintahkan untuk membacanya.
Dia membaca kebaikannya dan ketika sampai pada kejelekannya dia diam.
Orang tersebut malu membaca perbuatan maksiatnya di hadapan Allah SWT.

“Saya malu kepada Engkau Ya Allah,” kata orang ahli maksiat itu.
Lalu Allah SWT menyindir orang tersebut kenapa orang itu tidak malu kepada-Nya ketika di dunia.
Maka menyesallah hamba itu tapi penyesalan tiada berguna.
Na’uzubillah Min Zaliik.