Tips

6 Tips Bersepeda di Jalur Menanjak

6 Tips Bersepeda di Jalur Menanjak 1

6 Tips Bersepeda di Jalur Menanjak 2Bersepeda di Tanjakan

Pagi ini saya memulai hari dengan sedikit bersepeda di area GWK, tidak lama, tidak jauh-jauh, tidak juga blusukan, trek yang saya pilih 80% aspal, dan jalurnya lebih banyak menanjak. Jadi teringat beberapa waktu lalu sempat bertanya kepada sang master gowes disini, tentang tips-Tips gowes menanjak yang benar-benar bermanfaat.

Tips 1 : Teknik Shifting yang Tepat

Shifter adalah perangkat yang berfungsi untuk memindahkan gigi transmisi, Shifter ini terletak di setang kemudi (handle bar) dan terhubung dengan FD (Front Deraileur) dan RD (Rear Deraileur), Posisi standar dari pabrik, shifter kanan terhubung dengan RD, dan shifter kiri terhubung dengan FD, kecuali bila kamu memodifikasinya.

Shifting yang benar tentunya akan membuat kamu nyaman ketika gowes dan meningkatkan efisiensi tenaga. Untuk kamu yang terlatih, mempunyai energi banyak, otot kaki yang kuat tentu tidak akan jadi masalah, bahkan kamu dapat memilih untuk menggunakan sepeda single speed untuk menghadapi tanjakan. Nah, bagi para newbie dengan tenaga terbatas, otot kaki yang belum terlatih, dan stamina pas-pasan, tentu teknik shifting ini akan sangat membantu.

Saat menanjak gunakan gir (chainring) paling kecil di depan dan paling besar di belakang. Kombinasi gir seperti ini akan memberikan konsekuensi sepeda berjalan pelan, tetapi tidak membutuhkan banyak tenaga ketika menghadapi tanjakan. Tips-nya adalah jangan berdiri diatas sadel tetapi percepat kayuhan pada pedal, bungkukan badan agak ke depan supaya berat lebih terfokus ke bagian depan, dan jangan terlalu menarik handle bar seolah-olah kamu mau jumping, cukup pertahankan keseimbangan sepeda.

Sesuaikan kombinasi gir depan dan belakang dengan tanjakan yang ada hadapi. Untuk tanjakan yang tidak terlalu miring sebaiknya tidak menggunakan gir depan paling kecil di depan dan gir paling besar di belakang. Anda bisa menggunakan gir yang kedua di depan, dan gir belakang disesuaikan. Usahakan supaya tetap ada ‘beban’ untuk dikayuh, sehingga otot kaki juga terlatih dan supaya kamu tetap mendapatkan kecepatan.

Seiring semakin banyaknya jam bersepeda, maka kamu akan menemukan sendiri kebiasaan dan kemampuan otot kaki anda. Semakin sering berlatih menghadapi tanjakan maka akan semakin terbiasa mengukur gir yang tepat untuk menghadapinya.

Tips 2 : Posisi Pengendara Sepeda yang Tepat

Pada dasarnya untuk menghadapi tanjakan lebih baik duduk, atur gir ke paling ringan dan kayuh pedal lebih cepat daripada berdiri. Pada posisi duduk ini energi yang dipakai lebih sedikit ketimbang posisi berdiri. Namun ada kalanya kamu membutuhkan posisi berdiri yaitu ketika menghadapi tanjakan yang benar-benar tinggi.

Tips ketika menghadapi tanjakan ekstrim adalah kombinasikan antara mengayuh cepat sambil duduk di sadel, atau berdiri untuk mendapatkan kayuhan dan tenaga yang lebih besar. Berdiri singkat ketika menanjak dapat menaikan ritme kayuhan pada putaran crank. Apabila kombinasinya dilakukan dengan tepat maka dapat menjaga stamina tubuh, dan tetap santai ketika gowes.

Kelebihan posisi duduk ketika berkendara sepeda adalah beban tubuh bertumpu bukan pada kaki melainkan pada sepeda, sehingga kamu bisa memfokuskan energi untuk kaki dan mengayuh lebih cepat, dapat mengatur ritme bersepeda dengan baik, dan lebih rileks. Sementara itu, kekurangannya adalah mengandalkan lebih banyak kekuatan kaki sehingga bila tidak terbiasa mungkin akan terasa sakit pada kaki bagian tertentu. Selain itu, selangkangan akan terasa sakit/ kesemutan apabila pilihan sadel tidak tepat atau tidak menggunakan celana ber-padding (busa).

Kelebihan posisi berdiri ketika berkendara sepeda adalah menghasilkan tenaga kayuhan yang besar dan otot kaki bekerja secara menyeluruh. Jika kamu memerlukan akselerasi maksimal maka kamu dapat menggunakan posisi berdiri ini. Sementara itu, kekurangannya adalah menguras energi lebih banyak ketimbang posisi duduk karena kaki menanggung berat beban kamu secara keseluruhan.

Tips 3 : Sesuaikan Ketinggian Sadel

Ketinggian seatpost dan sadel menjadi Tips yang beberapa kali diulang, karena sadel menjadi tumpuan utama badan ketika kaki mengayuh pedal, maka ketinggian dan posisinya menentukan kenyamanan ketika bersepeda. Tips ketika menanjak adalah atur ketinggian seatpost dan posisi sadel pada posisi maksimum kayuhan kaki, dengan catatan kamu tetap merasa nyaman ketika mengayuh pedalnya. Pengaturan ketinggian sadel ini untuk efisiensi tenaga pengendara dan supaya energi yang dikeluarkan tidak terbuang percuma.

Pada dasarnya tinggi sadel dapat diatur dengan rumusan panjang inseam dikalikan dengan 109%, maka hasilnya adalah jarak antara bagian atas sadel ke poros pedal. Namun untuk kondisi menanjak kamu dapat mengaturnya berdasarkan posisi maksimum kayuhan kaki, kemungkinannya akan lebih tinggi dari rumusan 109% tersebut.

Cara mengatur ketinggian seatpost dan sadel ini adalah pertama ukur panjang kaki kamu dari telapak kaki sampai selangkangan, lalu ukur panjang crank arm (lengan crank), lalu tambahkan hasilnya. Misalnya panjang kaki dari telapak kaki sampai selangkangan adalah 70 cm, dan panjang crank arm sepeda 21cm (diukur dari poros ke poros), maka jarak maksimum kayuhan kaki adalah 91 cm. Selanjutnya, sesuaikan ketinggian sadel dengan hasil perhitungan tadi, yaitu 91 cm yang diukur dari poros BB (bottom bracket) sampai ke sadel bagian atas. Jika penyesuaian ketinggian seatpost dan sadel ini dirasa tidak nyaman, kamu dapat sedikit menguranginya. Fokusnya tetap pada kenyamanan kamu bersepeda.

Tips 4 : Sesuaikan Suspensi

Beberapa sepeda dilengkapi dengan suspensi depan yang dapat diatur, khususnya sepeda gunung. Ketika menghadapi tanjakan lebih baik atur suspensi kamu pada posisi lock, supaya suspensi sepeda terkunci dan tidak naik turun ketika dikayuh. Jika tidak dikunci tenaga kayuhan kamu akan dinetralkan oleh suspensi ini, apalagi ketika kamu mengayuh dengan posisi berdiri, tenaga kamu akan terbuang percuma.

Pada trek pegunungan kamu dapat menyesuaikan penguncian suspensi anda, khususnya pada trek berbatu. Jika kamu membutuhkan efisiensi tenaga maka suspensi depan dapat dikunci, tetapi bila jalanan menanjak dan tidak rata karena batu, kamu dapat menggunakan suspensi (lock off), tetapi tetap mengatur cara kayuh supaya stamina tidak cepat habis.

Tips 5 : Gowes Zigzag dan Kurangi Beban Sepeda

Jika trek tanjakan benar-benar panjang, kamu dapat mengakalinya dengan berjalan zigzag. Cara ini cukup efektif untuk memberikan waktu kepada tubuh terutama otot-otot kaki supaya dapat beristirahat/ rileks sejenak. Namun, untuk cara ini kamu tetap harus waspada dengan kondisi jalan, bila jalanannya kecil dan 2 arah maka akan sangat riskan bila berjalan zigzag.

Kurangi beban sepeda dengan mengurangi beban yang kamu bawa. Semakin sedikit beban yang kamu bawa maka akan semakin ringan ketika menghadapi jalanan menanjak. Jika dirasa tidak perlu membawa senter maka tidak perlu memasang senter di sepeda anda, atau tidak perlu membawa cadangan ban dalam bila tidak diperlukan.

Tips 6 : Upgrade diri kamu atau upgrade sepeda anda

Ini Tips terakhir, upgrade stamina dan tenaga kamu atau upgrade sepeda anda. Part yang bagus akan membantu kamu dalam efisiensi tenaga yang dipakai. Upgrade sepeda dengan mengganti RD dan FD supaya lebih nyaman ketika gowes, atau ganti ban supaya lebih enak, atau ganti frame menjadi lebih ringan, atau menambahkan bar end berupa tanduk supaya nyaman ketika menanjak dan sebagainya.

Sepeda juga harus dirawat supaya tetap pada kondisi terbaiknya, bersihkan dari lumpur/ tanah, beri pelumas pada pedal, gir, dan crankset. Banyak berlatih pada jalur menanjak karena manfaatnya cukup banyak terutama dapat meningkatkan stamina, meningkatkan ketahanan otot, dan meningkatkan kekuatan tungkai kaki.

Demikian Tips untuk bersepeda di jalur menanjak, semoga bermanfaat!